Daftar Isi:
- Mengapa Data Center AI Menjadi Isu Lingkungan?
- Kasus Jatiluhur: Ketika Data Center AI Berkaitan dengan Sumber Daya Air
- Dampak Pembangunan Data Center AI terhadap Lingkungan
- 1. Meningkatkan Kebutuhan Air
- 2. Meningkatkan Kebutuhan Listrik dan Potensi Emisi
- 3. Mengubah Penggunaan Lahan dan Lingkungan Sekitar
- 4. Memiliki Jejak Material dan Karbon dari Pembangunan
- 5. Menghasilkan Limbah Elektronik dan Potensi Limbah B3
- 6. Menimbulkan Dampak Lokal seperti Kebisingan dan Aktivitas Konstruksi
- Apakah Semua Data Center AI Menggunakan Banyak Air?
- Bagaimana Data Center AI Dapat Dibangun Lebih Berkelanjutan?
- Pertanyaan Penting yang Perlu Ditanyakan Masyarakat
- Kesimpulan
Artificial Intelligence atau AI berkembang semakin cepat. Di balik layanan AI yang digunakan untuk mencari informasi, membuat gambar, menganalisis data, hingga menjalankan aplikasi bisnis, terdapat infrastruktur fisik berupa data center AI yang membutuhkan server berdaya komputasi tinggi, sistem kelistrikan, jaringan, dan pendinginan.
Pertumbuhan infrastruktur tersebut membawa manfaat besar bagi ekonomi digital. Namun, pembangunan data center AI juga menimbulkan pertanyaan lingkungan: berapa banyak air yang dibutuhkan, dari mana listriknya berasal, bagaimana pengaruhnya terhadap lahan dan ekosistem, serta ke mana limbah fasilitas tersebut berakhir?
Pertanyaan tersebut menjadi semakin relevan setelah pembangunan AI Campus 2 (CGK4) milik BDx di kawasan Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, menjadi sorotan pada September 2026. Pemerintah Jawa Barat menghentikan sementara pembangunan pada 28 September 2026 karena dokumen AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum diterbitkan. Pemerintah juga meminta aspek penggunaan air dan dampaknya terhadap masyarakat diperhatikan dalam proses kajian.
Kasus tersebut tidak berarti bahwa setiap data center AI pasti merusak lingkungan. Sebaliknya, kasus Jatiluhur menunjukkan pentingnya menilai skala proyek, lokasi, teknologi, sumber daya yang digunakan, serta langkah mitigasinya secara menyeluruh.
Mengapa Data Center AI Menjadi Isu Lingkungan?
AI Membutuhkan Infrastruktur Fisik Berskala Besar
AI tidak berjalan di ruang virtual tanpa konsekuensi fisik. Model AI membutuhkan pusat komputasi yang berisi server, akselerator, sistem penyimpanan, jaringan, sumber listrik cadangan, serta sistem pendinginan.
International Energy Agency atau IEA mencatat konsumsi listrik data center meningkat sekitar 17% pada 2025. Pertumbuhan fasilitas yang berfokus pada AI bahkan berlangsung lebih cepat dibandingkan pertumbuhan konsumsi listrik data center secara keseluruhan.
Artinya, pertumbuhan AI ikut meningkatkan kebutuhan terhadap infrastruktur fisik dan sumber daya. Karena itu, dampak lingkungan AI perlu dilihat dari seluruh rantai infrastrukturnya, bukan hanya dari perangkat yang digunakan oleh pengguna.
UNEP juga menempatkan konsumsi energi, air, mineral, emisi, dan limbah elektronik sebagai bagian penting dari jejak lingkungan AI sepanjang siklus hidupnya.
Pembangunan dan Operasional Menghasilkan Dampak yang Berbeda
Dampak lingkungan data center muncul pada beberapa tahap.
Pada tahap pembangunan, terdapat kebutuhan lahan, material konstruksi, energi, transportasi, serta aktivitas alat berat. Setelah fasilitas beroperasi, perhatian bergeser pada kebutuhan listrik, sistem pendinginan, penggunaan air, pemeliharaan peralatan, dan pengelolaan limbah.
Karena itu, penilaian lingkungan yang baik tidak cukup hanya menghitung konsumsi ketika server mulai aktif. Pengembang perlu melihat siklus hidup fasilitas, mulai dari pembangunan sampai penggantian peralatan dan tahap akhir masa operasional. Pendekatan siklus hidup seperti ini juga menjadi bagian dari panduan internasional untuk menilai dampak lingkungan AI dan data center.
Kasus Jatiluhur: Ketika Data Center AI Berkaitan dengan Sumber Daya Air
Pembangunan data center AI di Jatiluhur memberikan gambaran nyata mengenai hubungan antara infrastruktur digital dan sumber daya lingkungan.
Skala Proyek dan Kebutuhan Air
BDx mengumumkan pembangunan AI Campus 2 (CGK4) di Jatiluhur dengan kapasitas total yang direncanakan mencapai 640 MW. Fasilitas awal dirancang sebesar 120 MW dan dijadwalkan dikembangkan secara bertahap.
Dalam pemberitaan mengenai proyek tersebut, kebutuhan air pada tahap pengembangan berikutnya diperkirakan mencapai sekitar 384 liter per detik, atau sekitar 33.000 meter kubik per hari. Angka ini merupakan estimasi kebutuhan ketika fasilitas mencapai tahap penggunaan yang lebih besar, bukan berarti fasilitas tersebut saat ini mengonsumsi air sebesar itu setiap hari.
Perhitungan tersebut menjadi perhatian karena lokasi proyek berada sekitar lima kilometer dari Bendungan Jatiluhur. Bendungan ini memiliki fungsi strategis untuk irigasi, penyediaan air baku, dan pembangkitan listrik. BBWS Citarum mencatat Bendungan Ir. H. Djuanda atau Jatiluhur mengairi Daerah Irigasi Jatiluhur seluas sekitar 242.000 hektare dan memiliki kapasitas pembangkitan listrik 187,5 MW.
Mengapa Lokasi Sumber Air Menjadi Faktor Penting?
Persoalan lingkungan tidak hanya ditentukan oleh volume air yang digunakan. Lokasi dan kondisi sumber air juga sangat menentukan.
Data center di daerah yang memiliki pasokan air melimpah dan menggunakan sistem pendinginan hemat air akan menghadapi risiko yang berbeda dibandingkan fasilitas dengan desain serupa yang berada di wilayah dengan tekanan air tinggi.
Karena itu, angka penggunaan air sebaiknya selalu dibaca bersama dengan:
- sumber air yang digunakan;
- ketersediaan air sepanjang musim;
- kebutuhan masyarakat dan sektor pertanian;
- kebutuhan ekosistem;
- teknologi pendinginan;
- rencana ekspansi fasilitas.
Dalam kasus Jatiluhur, perhatian publik muncul karena sumber daya air tersebut memiliki banyak fungsi. Jadi, pertanyaannya bukan semata-mata “apakah airnya tersedia?”, tetapi juga “apakah penggunaan tersebut tetap berkelanjutan ketika kebutuhan lain diperhitungkan?”
Mengapa Kebutuhan Air Harus Dinilai Sejak Tahap Perencanaan?
Data center memiliki karakteristik beban yang dapat meningkat ketika kapasitas komputasi bertambah. Karena itu, penggunaan sumber daya pada tahap awal tidak selalu menggambarkan kebutuhan pada kapasitas penuh.
Kajian lingkungan perlu mempertimbangkan skenario pengembangan, termasuk kebutuhan air dan listrik pada setiap fase. Dalam konteks Jatiluhur, pemerintah Jawa Barat secara terbuka meminta kajian mengenai penggunaan air dan dampaknya terhadap masyarakat menjadi bagian dari proses evaluasi proyek.
Dampak Pembangunan Data Center AI terhadap Lingkungan
1. Meningkatkan Kebutuhan Air
Air dapat digunakan dalam sistem pendinginan tertentu untuk membuang panas dari perangkat komputasi.
Sistem pendinginan berbasis evaporasi dapat mengonsumsi air secara terus-menerus karena sebagian air berubah menjadi uap dalam proses pelepasan panas. Department of Energy di Amerika Serikat menjelaskan bahwa kebutuhan air pada cooling tower berkaitan dengan beban panas peralatan dan efisiensi sistem pendinginan.
Namun, konsumsi air tidak sama untuk semua fasilitas. Teknologi dan desain pendinginan dapat menghasilkan tingkat penggunaan yang sangat berbeda.
Karena itu, pembahasan mengenai konsumsi air data center perlu memasukkan ukuran seperti Water Usage Effectiveness (WUE). Standar ISO/IEC 30134-9 mendefinisikan WUE sebagai indikator untuk mengukur konsumsi air fasilitas terhadap energi yang digunakan oleh peralatan TI.
2. Meningkatkan Kebutuhan Listrik dan Potensi Emisi
Server AI membutuhkan daya besar, khususnya ketika fasilitas dirancang untuk menjalankan komputasi dengan kepadatan tinggi.
Semakin besar kebutuhan listrik, semakin penting melihat sumber listrik yang digunakan. Listrik yang berasal dari sistem dengan intensitas emisi tinggi menghasilkan jejak karbon berbeda dibandingkan listrik dari sumber rendah emisi.
IEA memperkirakan data center secara global telah menjadi pengguna listrik yang signifikan, sementara pertumbuhan beban AI menjadi salah satu faktor yang mendorong peningkatan kebutuhan tersebut.
Karena itu, ukuran kapasitas dalam megawatt tidak cukup untuk menyimpulkan dampak karbon. Analisis juga perlu melihat berapa besar energi benar-benar digunakan, bagaimana efisiensi fasilitasnya, dan dari mana energi tersebut berasal.
3. Mengubah Penggunaan Lahan dan Lingkungan Sekitar
Data center membutuhkan bangunan, infrastruktur listrik, sistem pendinginan, jalan akses, area utilitas, dan fasilitas pendukung.
Perubahan penggunaan lahan dapat memengaruhi kondisi lingkungan lokal, terutama apabila proyek berada dekat kawasan pertanian, sumber air, habitat, atau kawasan dengan daya dukung ekologis yang terbatas.
Dampak juga dapat muncul selama konstruksi melalui pergerakan kendaraan, aktivitas alat berat, kebisingan, debu, dan perubahan kondisi permukaan tanah.
Karena itu, lokasi data center seharusnya dipilih bukan hanya berdasarkan kedekatan dengan jaringan listrik dan konektivitas, tetapi juga berdasarkan daya dukung lingkungan dan kebutuhan masyarakat sekitar.
4. Memiliki Jejak Material dan Karbon dari Pembangunan
Jejak lingkungan data center tidak hanya berasal dari server yang sudah beroperasi.
Bangunan membutuhkan beton, baja, kabel, peralatan listrik, sistem pendinginan, serta berbagai material lain. Sementara itu, perangkat komputasi membutuhkan mineral dan bahan baku yang diperoleh melalui rantai pasok global.
UNEP menekankan bahwa dampak AI juga berkaitan dengan penggunaan mineral, manufaktur perangkat keras, serta berbagai tahapan dalam siklus hidup infrastruktur digital.
Artinya, membangun data center yang efisien saat beroperasi belum otomatis menghilangkan dampak lingkungan dari tahap produksinya.
5. Menghasilkan Limbah Elektronik dan Potensi Limbah B3
Siklus hidup perangkat di dalam data center juga berakhir pada penggantian atau penghentian penggunaan.
Server, perangkat jaringan, kabel, baterai, sistem UPS, lampu, peralatan pendingin, dan komponen lainnya dapat menjadi limbah ketika masa pakainya berakhir. UNEP mengidentifikasi limbah elektronik sebagai salah satu dampak penting dari ekspansi infrastruktur AI.
Dalam konteks Indonesia, tidak semua limbah elektronik otomatis masuk kategori Limbah B3. Penentuan statusnya perlu melihat jenis limbah, karakteristik, sumber, dan ketentuan yang berlaku. PP Nomor 22 Tahun 2021 mengatur pengelolaan Limbah B3 serta aspek perlindungan dan pengelolaan lingkungan hidup.
Karena itu, pengelola data center perlu melakukan identifikasi dan pemilahan limbah sejak sumbernya. Limbah yang teridentifikasi sebagai B3 membutuhkan pengelolaan sesuai ketentuan, termasuk penyimpanan, pengangkutan, dan pengolahan melalui mekanisme yang sesuai.
Aspek ini menjadi semakin penting ketika fasilitas menggunakan banyak perangkat listrik dan elektronik dengan siklus penggantian yang relatif cepat.
6. Menimbulkan Dampak Lokal seperti Kebisingan dan Aktivitas Konstruksi
Dampak lingkungan tidak selalu berupa angka konsumsi air atau emisi karbon.
Masyarakat di sekitar lokasi juga dapat merasakan dampak berupa kebisingan konstruksi, lalu lintas kendaraan proyek, perubahan aktivitas kawasan, serta aktivitas perawatan fasilitas ketika data center sudah beroperasi.
Dalam kasus Jatiluhur, pemerintah daerah secara khusus meminta analisis terkait potensi kebisingan dan penggunaan air diperhatikan dalam proses kajian proyek.
Hal tersebut menunjukkan bahwa dampak sebuah data center perlu dinilai pada dua tingkatan: dampak global seperti energi dan emisi, serta dampak lokal yang langsung dirasakan masyarakat.
Apakah Semua Data Center AI Menggunakan Banyak Air?
Jawabannya tidak selalu.
Teknologi pendinginan berperan besar dalam menentukan penggunaan air suatu fasilitas.
Pada sistem pendinginan evaporatif, air dapat digunakan untuk membantu membuang panas. Sebaliknya, sistem direct-to-chip liquid cooling dapat mengalirkan cairan pendingin langsung ke sumber panas pada chip.
Namun, istilah liquid cooling saja tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa sebuah data center hemat air. Cairan yang beredar pada sisi IT dapat berada dalam sistem tertutup, sementara pembuangan panas pada tahap berikutnya masih dapat menggunakan sistem yang membutuhkan air.
Department of Energy menjelaskan bahwa direct liquid cooling dapat menggunakan sirkuit cairan resirkulasi, tetapi konfigurasi pembuangan panas berikutnya tetap menentukan kebutuhan air keseluruhan fasilitas.
Beberapa operator juga telah mengembangkan desain direct-to-chip dengan sistem closed loop dan non-evaporative cooling yang ditujukan untuk menekan kebutuhan air operasional.
Dengan demikian, masyarakat sebaiknya tidak menilai sebuah data center hanya berdasarkan label “AI” atau “liquid cooling”. Yang perlu dilihat adalah total kebutuhan air fasilitas dan teknologi yang digunakan pada seluruh sistem pendinginan.
Memahami WUE, PUE, dan CUE
Ada beberapa indikator yang dapat membantu menilai efisiensi data center.
PUE (Power Usage Effectiveness) menggambarkan hubungan antara total energi fasilitas dengan energi yang digunakan peralatan TI.
WUE (Water Usage Effectiveness) mengukur efisiensi penggunaan air terhadap energi peralatan TI.
Sementara CUE (Carbon Usage Effectiveness) digunakan untuk melihat intensitas emisi karbon yang berkaitan dengan operasional data center.
Indikator tersebut membantu mengubah pembahasan lingkungan dari sekadar klaim “ramah lingkungan” menjadi ukuran yang lebih dapat dibandingkan.
WUE sendiri telah menjadi indikator yang didefinisikan dalam ISO/IEC 30134-9.
Bagaimana Data Center AI Dapat Dibangun Lebih Berkelanjutan?
Memilih Lokasi Berdasarkan Daya Dukung Lingkungan
Lokasi harus dinilai berdasarkan lebih dari sekadar harga lahan, jaringan internet, dan kedekatan dengan sumber listrik.
Pengembang perlu mempertimbangkan:
- ketersediaan air;
- kebutuhan air masyarakat;
- kebutuhan pertanian;
- kondisi ekosistem;
- kapasitas jaringan listrik;
- potensi dampak konstruksi;
- risiko bencana dan perubahan iklim;
- peluang penggunaan energi rendah emisi.
Prinsipnya sederhana: data center seharusnya menyesuaikan diri dengan daya dukung lingkungan, bukan mengabaikannya demi mengejar kecepatan pembangunan.
Mengelola Air secara Efisien
Strategi pengurangan penggunaan air dapat mencakup pemilihan teknologi pendinginan yang sesuai, penggunaan air nonpotabel atau air daur ulang apabila memungkinkan, pengendalian kehilangan air, serta pemantauan WUE secara berkala.
Yang perlu diperhatikan bukan hanya total volume air, tetapi juga sumber air dan dampaknya terhadap pengguna lain.
Menggunakan Energi secara Efisien dan Rendah Emisi
Efisiensi server, sistem pendinginan, distribusi listrik, dan infrastruktur pendukung dapat menurunkan kebutuhan energi.
Pemilihan sumber energi juga penting. Data center yang menggunakan energi rendah karbon dapat memiliki jejak emisi berbeda dengan fasilitas yang memperoleh listrik dari sistem dengan intensitas emisi tinggi.
UNEP merekomendasikan peningkatan efisiensi energi dan pendekatan yang lebih berkelanjutan dalam pengadaan serta desain data center.
Mengelola Limbah Berdasarkan Siklus Hidup
Pengelolaan lingkungan harus tetap berjalan sampai perangkat tidak lagi digunakan.
Pengelola data center perlu memiliki sistem untuk:
- mengidentifikasi jenis limbah;
- memisahkan limbah berdasarkan karakteristik;
- memaksimalkan penggunaan kembali atau pemulihan material yang memungkinkan;
- memastikan limbah B3 dikelola sesuai ketentuan;
- memilih mitra pengangkutan dan pengolahan yang sesuai.
Pendekatan tersebut sejalan dengan prinsip siklus hidup yang mencakup desain, pengadaan, konstruksi, operasional, hingga tahap pembongkaran dan daur ulang.
Membuka Informasi Lingkungan kepada Publik
Transparansi menjadi bagian penting dari pembangunan infrastruktur berskala besar.
Informasi seperti kebutuhan air, sumber air, kebutuhan listrik, teknologi pendinginan, skenario ekspansi, potensi dampak, serta rencana mitigasi sebaiknya dapat dipahami oleh masyarakat.
Dalam kasus Jatiluhur, IESR juga mendorong agar kajian dampak lingkungan dan sosial serta dampak terhadap sumber daya listrik dapat dibuka kepada publik sebelum proyek dilanjutkan.
Transparansi bukan berarti menghambat investasi. Justru informasi yang jelas dapat membantu masyarakat, pemerintah, dan pelaku usaha menilai proyek berdasarkan data.
Pertanyaan Penting yang Perlu Ditanyakan Masyarakat
Masyarakat tidak harus memahami teknologi server secara mendalam untuk menilai dampak lingkungan sebuah data center.
Lima pertanyaan berikut dapat menjadi titik awal:
1. Dari mana air untuk data center berasal?
Jawabannya perlu disertai informasi mengenai kapasitas sumber air dan kebutuhan pengguna lain.
2. Berapa kebutuhan air pada kapasitas awal dan kapasitas maksimum?
Angka kapasitas penuh penting karena fasilitas dapat berkembang secara bertahap.
3. Dari mana listrik diperoleh dan seberapa efisien fasilitasnya?
Kapasitas listrik dan konsumsi aktual merupakan dua hal yang berbeda.
4. Teknologi pendinginan apa yang digunakan?
Jenis sistem pendinginan sangat menentukan konsumsi energi dan air.
5. Bagaimana limbah elektronik, baterai, oli, dan limbah lain dikelola?
Pengelolaan limbah seharusnya menjadi bagian dari desain operasional, bukan baru dipikirkan setelah limbah terbentuk.
Pertanyaan tersebut membuat diskusi tentang dampak pembangunan data center AI terhadap lingkungan menjadi lebih objektif.
Kesimpulan
Pembangunan data center AI merupakan bagian penting dari perkembangan ekonomi digital. Namun, infrastruktur tersebut membutuhkan sumber daya fisik dalam jumlah besar. Dampaknya dapat mencakup air, energi, emisi, lahan, material, limbah elektronik, hingga kondisi sosial dan lingkungan masyarakat sekitar.
Kasus Jatiluhur menunjukkan bagaimana isu tersebut dapat menjadi perhatian publik ketika proyek AI berada dekat sumber daya air yang memiliki fungsi strategis bagi berbagai kebutuhan. Proyek CGK4 BDx direncanakan mencapai kapasitas 640 MW, sementara kebutuhan air pada fase pengembangan berikutnya diperkirakan mencapai sekitar 384 liter per detik. Pada saat yang sama, Bendungan Jatiluhur memiliki peran penting bagi irigasi dan kebutuhan air di wilayah Jawa Barat.
Hal penting yang perlu dipahami adalah data center AI tidak otomatis memiliki dampak lingkungan yang sama. Desain pendinginan, sumber energi, lokasi, efisiensi fasilitas, kondisi sumber daya lokal, dan kualitas pengelolaan limbah dapat menghasilkan tingkat dampak yang berbeda.
Karena itu, pembangunan data center AI perlu menggunakan pendekatan yang menyeluruh: teknologi Artificial Intelligence, tetapi tetap mempertimbangkan daya dukung lingkungan dan kepentingan masyarakat.
Dalam perspektif pengelolaan Limbah B3, keberlanjutan data center juga perlu mencakup pengelolaan limbah dari aktivitas operasional dan pemeliharaan fasilitas secara tepat, terutama untuk limbah yang berdasarkan identifikasi dan karakteristiknya masuk dalam kategori Limbah B3.
Data Center AI dan Pengelolaan Limbah B3
Pertumbuhan data center membutuhkan pendekatan lingkungan yang tidak hanya memperhatikan energi dan air, tetapi juga seluruh siklus pengelolaan limbah dari aktivitas operasional dan pemeliharaan.
PT Jasa Medivest menyediakan layanan pengangkutan dan pengolahan Limbah B3. Untuk fasilitas yang menghasilkan limbah yang berdasarkan identifikasi dan karakteristiknya termasuk Limbah B3, pengelolaan yang tepat perlu direncanakan sejak awal agar aspek lingkungan menjadi bagian dari operasional yang bertanggung jawab.
Hubungi PT Jasa Medivest untuk mendiskusikan kebutuhan pengangkutan dan pengolahan Limbah B3 sesuai jenis dan karakteristik limbah yang dihasilkan.





